Bulan Inklusi Keuangan (BIK) merupakan salah satu momen penting dari sekian program prioritas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara. Momen ini merupakan program lmengawal target literasi dan inklusi keuangan di wilayah Sulawesi Tenggara.
Event yang digelar secara kontinyu sejak 2015 ini, bekerjasama dengan lembaga keuangan yang tergabung dalam Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK), OJK terus berupaya meningkatkan taraf pengetahuan masyarakat terkait literasi dan inklusi keuangan.
Diketahui, inklusi keuangan berarti akses peran OJK menggalang sinergitas dengan perusahaan jasa keuangan resmi dalam memberikan kemudahan dan akses bagi masyarakat dalam memanfaatkan jasa atau produk keuangan.
Penggunaan layanan keuangan ini, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam aktifitas sehari-hari. Baik untuk transaksi pembayaran, tabungan, kredit dan asuransi. Upaya ini dilakukan oleh OJK secara terus menerus setiap tahunnya.
Sedangkan, literasi keuangan adalah upaya OJK bekerjasama dengan lembaga keuangan resmi dalam mentransfer pengetahuan, keterampilan dan keyakinan yang akan berdampak pada perilaku masyarakat dalam memanfaatkan aset uang. Salah satu tujuannya, menciptakan kesejahteraan di dalam masyarakat.
Kepala OJK Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha menyatakan, target inklusi keuangan secara nasional pada tahun 2025 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yakni 91 persen. Selanjutnya, pada tahun 2029 yakni 93 persen. Sedangkan, pada tahun 2045 yakni 98 persen.
“Target ni tentunya, memerlukan sinergitas lembaga jasa keuangan di pusat hingga daerah. Peran utama pemerintah menjadikan target ini sangat penting, sebab pemerintah yang paling paham dengan kondisi masyarakat di wilayah masing-masing,” ujar Maulana Bismi Nugraha.
Dari hasil survei Standar Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) terhadap RPJMN-RPJPN saat ini adalah:
untuk RPJMN Tahun 2025, Inklusi keuangan di masyarakat sudah mencapai 80,51 persen atau ada celah 10,49 persen dari target 91 persen.
Kemudian, hasil inklusi keuangan pada tahun 2025 terhadap RPJMN tahun 2029 sebesar 93 persen, masih ada celah 12,49 persen yang harus dipenuhi.
Sedangkan, hasil survei literasi dan inklusi keuangan untuk mencapai target inklusi keuangan RPJMP tahun 2045, masih ada celah 17,49 persen dari pencapaian yang sudah diraih.
Bismi Maulana Nugraha mengatakan, pihaknya akan terus bekerja keras. Membangun sinergi dan koneksi yang baik dan kokoh dengan stakeholder terkait merupakan salah satu kuncinya.


