Nasib tragis menimpa Made (66), seorang warga Desa Torobulu, Kecamatan Lainea, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Rumah permanen yang dihuni bersama keluarganya kini berada di ambang kehancuran setelah dikepung oleh lubang raksasa bekas galian tambang nikel milik PT Wijaya Inti Nusantara (PT WIN).
Pantauan di lokasi pada Selasa (6/5/2026), kondisi kediaman Made sangat memprihatinkan. Hanya berjarak sekitar 10 meter di samping dan belakang rumah, menganga lubang galian sedalam kurang lebih 50 meter yang kini terisi air. Akibat aktivitas pengerukan tanah yang sangat dekat, struktur bangunan rumah bantuan tersebut mulai mengalami retak-retak dan terancam ambruk akibat tanah yang perlahan longsor.
“Saya kadang susah tidur karena ribut terus mobil lalu lalang. Kalau kendaraan lewat, rumah bergetar sampai dada sakit-sakit,” keluh Made saat ditemui di kediamannya.
Selama bertahun-tahun, pria yang bekerja sebagai penjaga tambak udang ini mengaku hanya bisa pasrah. Kompensasi dampak dari pihak perusahaan sebesar Rp400-500 ribu per bulan dianggap tidak sebanding dengan ancaman keselamatan jiwa keluarganya.
Made mengaku sudah berulang kali mendatangi kantor PT WIN untuk mencari solusi. Namun, upayanya menemui jalan buntu. “Pertama kali ke sana tidak ada yang mau temui. Kedatangan kedua dijanjikan mereka akan ke rumah, tapi sampai hari ini tidak ada penyelesaian,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Karena merasa tidak mendapat kejelasan, Made akhirnya meminta bantuan kepada Ayunia Muis, seorang pegiat lingkungan setempat. Sebuah rekaman video yang berisi keluh kesah Made dan istrinya, Nurmiati (49), kemudian viral di media sosial. Dalam video tersebut, mereka bahkan meminta perhatian langsung dari Presiden.
Dugaan Intimidasi Beruntun
Bukannya mendapat bantuan, dua hari setelah video tersebut viral, Made mengaku mulai didatangi oknum polisi yang memberikan nada ancaman.
“Polisi itu tanya, saya mau lawan perusahaankah? Dia minta saya buat pernyataan bahwa video itu dibuat tanpa sepengetahuan saya, tapi saya tolak karena saya memang yang meminta tolong direkam,” tegas Made.
Tak hanya itu, tekanan juga datang dari pihak yayasan yang dahulu membangun rumahnya, hingga tetangga sekitar yang menakut-nakuti bahwa aksinya mengadu ke Presiden bisa berujung di penjara. “Mereka takut-takuti saya, katanya bahaya bisa masuk penjara gara-gara video,” tambah Nurmiati.
Ayunia Muis yang memberikan pendampingan menyatakan akan terus mengawal kasus ini. “Setiap kali habis ditemui (pihak yang mengintimidasi), Pak Made melapor ke saya. Kami dari komunitas di Torobulu berupaya memberi pendampingan agar PT WIN mau bertanggung jawab,” ujar Ayu.
Made berharap pihak perusahaan segera melakukan normalisasi atau penimbunan kembali lubang galian yang menganga agar tanah tidak terus longsor, serta memperbaiki kerusakan bangunan rumahnya.
Hingga berita ini diturunkan, Project Manajer PT WIN, Muhammad Nuriman Djalani, belum memberikan respons saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon maupun pesan singkat WhatsApp terkait kondisi warga tersebut.


