Kepala OJK Sulawesi Tenggara Bismi Maulana Nugraha memaparkan tantangan literasi dan inklusi keuangan di wilayah Sulawesi Tenggara,
Sabtu (25/10/2025). Dalam sambutannya di acara puncak Bulan Inklusi Keuangan BIK 2025 di Sultra, Bismi Maulana mengatakan, masih perlu banyak yang harus dikerjakan dalam memaksimalkan peran OJK menciptakan sinergi kuat dengan Industri Jasa Keuangan (IJK) dan pemerintah daerah.
Kata dia, hal ini akan menjadi kunci keberhasilan target RPJMN dan RPJMP 2029-2045 mendatang.
Bismi memaparkan, dari data yang ada, inklusi keuangan nasional mencapai 80,51 persen pada 2025 mencerminkan akses luas layanan keuangan.
Kemudian, literasi keuangan nasional yang baru mencapai 66,46 persen, masih memerlukan peningkatan signifikan. Hal ini memerlukan koordinasi menyeluruh antara OJK, IJK dan pemerintah daerah.
“Literasi keuangan terhadap perempuan ada pada angka 67,32 persen, sedangkan literasi pada masyarakat pedesaan masih pada angka 70,89 persen,” katanya.
Dalam rilisnya, Bismi melanjutkan, literasi keuangan masyarakat perkotaan lebih tinggi dari pedesaan yakni sekitar 83,61 persen. Hal ini berarti, ada perbedaan akibat kesenjangan wilayah.
“Terdapat gap (jarak) literasi sebesar 10,49 persen untuk target nasional 91 persen pada 2025 dan gap 17,49 persen untuk target 98 persen pada 2045,” lanjut Bismi.
Menurut Bismi, data ini merupakan cerminan tantangan besar dalam meningkatkan kesadaran dan kemampuan finansial Indonesia.
Dalam sambutannya di BIK 2025 di Kendari, Bismi mengatakan, yang membanggakan yakni, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara, perekonomian Sulawesi Tenggara berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku triwulan II-2025 mencapai Rp49,82 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp29,40 triliun.
Ekonomi Sulawesi Tenggara semester I-2024 terhadap semester I-2025 mengalami pertumbuhan sebesar 5,78 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Industri Pengolahan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 15,44 persen. Dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 4,91 persen.


