Berhentinya aktivitas operasional PT Wijaya Inti Nusantara (PT WIN) mulai berdampak serius terhadap perekonomian masyarakat di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan. Lesunya perputaran ekonomi lokal terjadi lantaran warga yang selama ini bergantung pada aktivitas perusahaan dan pekerjanya kini kehilangan mata pencaharian utama.
Dampak penurunan ekonomi ini salah satunya dirasakan oleh Halwiyati, pemilik kios kelontong di Desa Torobulu. Ia mengaku omzet usahanya merosot tajam sejak para karyawan perusahaan tidak lagi berbelanja di tempatnya.
“Sekarang sangat terasa. Penghasilan kios turun drastis sejak PT WIN tidak beroperasi. Dulu karyawan sering belanja di sini, sekarang sudah sangat berkurang,” ujar Halwiyati saat ditemui pada Selasa (11/8/2026).
Kondisi tersebut kian menekan ekonomi keluarganya. Sebagai tulang punggung utama usaha kios, Halwiyati harus memutar otak untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga di tengah pendapatan yang kian minim.
“Saya pusing, karena biaya keluarga harus ditanggung sendiri. Suami juga susah dan tidak bisa kerja berat. Penghasilan saya praktis hanya bergantung dari kios ini,” ungkapnya.
Beban finansial tersebut kian terasa berat karena Halwiyati tidak hanya menanggung kebutuhan anak-anaknya, tetapi juga membantu anggota keluarga lain yang ikut menggantungkan hidup kepadanya. Biaya pokok seperti konsumsi harian dan pendidikan anak menjadi prioritas yang tak bisa ditawar.
Ia mengenang, saat PT WIN masih beroperasi aktif, roda perekonomian di kawasan sekitar terasa lebih hidup. Kebutuhan harian, biaya sekolah anak, hingga operasional rumah tangga dapat dipenuhi tanpa hambatan berarti. Namun kini, dampaknya merembet hingga ke kebutuhan paling mendasar.
“Kalau orang tua mau makan mungkin masih bisa ditahan. Tapi kalau anak-anak mau makan, tidak bisa ditunda. Anak-anak mau sekolah, kebutuhan tetap jalan, sementara penghasilan sekarang sudah sangat menurun,” keluhnya.
Atas kondisi stagnasi ekonomi wilayah tersebut, Halwiyati berharap pemerintah pusat turun tangan untuk menyelesaikan kendala regulasi yang menghambat operasional perusahaan.
“Harapan saya, Presiden Prabowo bisa membantu agar persoalan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) ini cepat selesai. Kami masyarakat berharap ekonomi bisa kembali stabil seperti dulu. Kami hanya ingin bisa bekerja, berusaha, dan memenuhi kebutuhan keluarga,” tegas Halwiyati.
Fenomena yang terjadi di Desa Torobulu mempertegas bahwa terhentinya operasional sebuah perusahaan tambang tidak hanya berdampak langsung pada para pekerja. Efek dominonya turut melumpuhkan ekosistem ekonomi mikro di sekitarnya, mulai dari pelaku usaha kecil, pedagang harian, hingga penyedia jasa transportasi lokal.


