Sejak PT Wijaya Inti Nusantara beroperasi, hasil panen petani tambak ikan di sekitar lokasi IUP, memburuk. Keberadaan perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Konawe Selatan ini, dinilai kerap menyebabkan masalah bagi lingkungan sekitar, terutama tambak ikan di Konawe Selatan.
Petani pada dua lokasi di Kecamatan Palangga Selatan yakni Desa Parasi dan Mondoe, mulai mengeluhkan aktivitas operasi perusahaan mengeruk tambang nikel di wilayah itu. Kata mereka, ada kecenderungan, perusahaan abai di sekitar lingkungan di area pesisir Kecamatan Palangga Selatan, Kabupaten Konawe Selatan.
Salah seorang petani di wilayah itu, Yusuf Barung (67 tahun) sudah merasakan akibatnya. Yusuf berprofesi sebagai petani tambak di Parasi, meyaksikan sikap acuh perusahaan yang berdampak bagi petani ikan.
Dia bercerita, sejak tahun 2015 Yusuf mulai mengelolah usaha tambak. Katanya, tahun-tahun awal hasil panen cuckup memuaskan. Setiap panen, bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga, kemudian bisa menabung sedikit untuk membiayai keperluan jika ada kebutuhan mendesak bagi keluarga.
Namun setelah PT WIN masif melancarkan aktivitasnya, kini hasil panen memburuk. Kondisi ini ia rasakan sejak 2022.
Dia mengungkapkan, bahkan dua tahun terakhir seringkali mengalami kerugian. Hasil panen tidak cukup membalikan modal.
“Tahun 2024 hingga 2025 ini sering tidak balik modal, udang dan ikan banyak yang mati,” ujar Yusuf, Sabtu (2712/2025).
Ia menduga, kondisi ini akibat kualitas air yang buruk. Dengan usia yang tidak lagi muda, harapan Yusuf satu-satunya adalah bergantung pada tambak ini. Jika bukan tambak, ia tak punya ‘senjata’ buat menghidupi keluarga juga biaya kuliah anak-anaknya.
“Tahun kemarin saya tebar 250 ribu bibit, tapi hanya bisa panen kurang lebih 15 kilo gram saja, jadi bukannya untung malah buntung, kasian kami, mau kasi makan apa anak-anak, kalau sudah begini kondisinya?” tuturnya pada saat ditemui di rumahnya pada Kamis, (18/12/2025)
Ketika hujan turun, arus dari gunung sampe ke hilir, mengakibatkan air laut menjadi merah kecoklatan, sehingga petani tidak bisa memanfaatkan air karna sudah bercampur lumpur. Kondisi ini jadi salah satu pemicu terhambatnya pertumbuhan ikan dan udang, karena petambak sangat mengandalkan kualitas air laut.
Yusuf mengatakan Kepentingan perusahaan seharusnya tidak mengancam keberlanjutan mata pencaharian tradisional masyarakat yang ada di lingkar tambang. Kerugian ekonomi yang dialami oleh petani tambak, perlu untuk diperhatikan dan ditindaklanjuti.
“Harapan saya, bagaimana ini PT WIN juga pemerintah adakan solusi untuk kami petambak, karna disini bukan saya saja yang rugi, tapi teman-teman yang lain juga” keluhnya
Oleh karena itu, Yusuf berharap pemerintah sebagai pengawas aktivitas pertambangan yang di lakukan oleh PT WIN bisa memberi solusi pemulihan lingkungan agar tidak berdampak hingga ke laut.
Hal serupa juga dialami Daharaddin (45 Tahun) petambak yang ada di Mondoe. Daharuddin mengeluhkan hasil panen makin menurun, udang yang belum mencapai masa panen banyak yang mati.
“Air jadi kabur. Kalau sudah begini tidak bisa lagi kasi masukan air di empang, padahal sebelum ada perusahaan hasil panen bisa sampe 3 atau 4 ton, tapi kemarin hanya bisa dapat 1 ton saja” ungkap Dahruddin. Sabtu (27/12/2025)
Menurutnya kandungan ore nikel mentah sangat berpengaruh pada matinya ikan dan udang, sehingga ia sebagai petambak benar-benar merasa terancam dengan adanya aktifitas PT WIN.
Melihat situasi ini, Pemerintah perlu mengambil tindakan tegas untuk menindak Penambang yang merugikan para petani ikan di Konawe Selatan dan masyarakat. Sehingga kesejahteraan bisa menyeluruh dan membawa dampak positif yang signifikan bagi semua warga yang ada di lingkar tambang.


