Pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW Partai NasDem Sulawesi Tenggara (Sultra) diwarnai ketegangan internal. Pasalnya, Ketua DPRD Sultra La Ode Tariala, kedapatan duduk di barisan kursi belakang, jauh dari deretan elite partai dan tamu undangan utama, Senin (18/5/2026).
Pemandangan ini memicu kritik pedas dari salah satu pendiri NasDem Sultra, Jurni. Ia menilai penempatan posisi duduk tersebut bukan sekadar masalah teknis, melainkan bentuk penghinaan terhadap simbol lembaga negara sekaligus kader partai.
Jurni menegaskan bahwa meski saat ini tengah bergulir isu rekomendasi pergantian Ketua DPRD, secara hukum dan konstitusi, La Ode Tariala masih menjabat sebagai pimpinan sah DPRD Sultra.
“Terlepas dari adanya rekomendasi pergantian, Pak Tariala hari ini masih sah menjabat Ketua DPRD Sultra dan masih kader NasDem. Itu harus dihargai. Yang malu sebenarnya bukan Pak Tariala, tapi NasDem sendiri,” ujar Jurni saat ditemui di lokasi acara.
Ia menambahkan bahwa perlakuan ini memperlihatkan ketidakdewasaan partai dalam mengelola konflik internal. Menurutnya, perbedaan politik semestinya tidak dipertontonkan secara terbuka melalui simbol-simbol yang mempermalukan kader di depan publik.
Desak Evaluasi Sekretaris DPW
Lebih lanjut, Jurni mengingatkan bahwa proses pergantian Ketua DPRD memiliki mekanisme panjang yang melibatkan rapat paripurna, persetujuan Gubernur, hingga Kementerian Dalam Negeri. Ia menyayangkan jika estetika politik partai justru rusak akibat masukan-masukan keliru kepada pimpinan wilayah.
Atas insiden ini, Jurni meminta Ketua DPW NasDem Sultra, Ali Mazi, segera mengevaluasi menyeluruh terhadap jajaran internal, terutama Sekretaris DPW NasDem Sultra, Tahir Lakimi.
Dalam pernyataannya, Jurni menegaskan, segera mengevaluasi pihak penyelenggara Rakerwil yang dinilai gagal menjaga komunikasi internal.
Meminta Ali Mazi mereview kinerja pengurus agar tidak merusak citra partai dan citra pribadi Ali Mazi sebagai anggota DPR RI.
Memperbaiki tata krama politik terhadap kader yang sedang menjabat di posisi strategis.
Dampak Simpati Publik
Jurni mengkhawatirkan kesan perlakuan “anak tiri” terhadap Tariala justru akan memicu gelombang simpati publik kepada sang Ketua DPRD, sementara citra NasDem akan merosot di mata masyarakat Bumi Anoa.
“Kalau partai mau besar, kader harus diperlakukan dengan baik. Jangan persoalan politik internal dipertontonkan seperti ini. Hari ini yang muncul justru simpati publik kepada Pak Tariala,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Sekretariat DPW NasDem Sultra belum memberikan keterangan resmi terkait alasan penempatan posisi duduk pimpinan DPRD tersebut dalam agenda Rakerwil.


